Untukmu Yang Pernah Berjuang Bersama

Aku tuliskan ini untukmu yang sang waktu pernah berikan kesempatan bagi kita untuk berjuang bersama.

Aku pikir sedikit nostalgia dan romantisme mampu menyembuhkan kedukaanmu.

 

 

Untukmu yang pernah berjuang bersama.

Apa kabarmu hari ini? Semoga semesta terus mendukung kehidupanmu dan sang kosmos memberimu kesehatan selalu.

Kau hanya sedang lelah, kita hanya sedang lelah, dan ingin kembali ke masa-masa di mana hidup hanya untuk diri sendiri dan sedikit orang yang kita kasihi. Kau tentu masih ingat di awal dirimu memutuskan untuk menyelam dalam gerakan penuh omong kosong yang sok idealis ini, kan? Seringkali kau timbulkan kepalamu ke permukaan dan menghirup nafas. Kau masih begitu enggan untuk sepenuhnya tenggelam. Kau takut. Kita takut. Dan, sejujurnya aku sangat takut.

Waktu berlalu dan kau mulai terbiasa, pun diriku. Perlahan kita mengurangi perlunya menghirup udara, meski berat, kita mulai paham akan resiko dan sedikit mengerti akan pengorbanan yang diperlukan untuk mencapai tujuan kita: sebuah dunia yang nihil-kesenjangan, nihil-maldistribusi, nihil-kesedihan. Kau dan aku tidak lagi berjalan kali ini, sesekali kita berlari.

Kau tentu ingat di setiap akhir pekan ketika teman-teman seumuranmu lebih memilih diam di rumah dan bangun siang hari, lalu liburan bersama keluarga, atau menghabiskan waktu bersama pasangannya, kau dengan anehnya malah bangun pagi-pagi dan mengusir jauh-jauh rasa kantuk. Kau paksa mesin motormu yang enggan menyala karena ia pun tahu kau tidak semestinya melakukan hal semacam ini. Tapi, kau berkeras diri. Kau arahkan laju motormu, menjemput kawanmu yang sama gilanya, kemudian kalian bergegas menuju beberapa tempat karena tahu jarum pendek jam sudah menunjuk angka sembilan. Bodoh, gumam orang-orang, kalian tentu tidak akan dipecat siapa-siapa, kenapa mesti buru-buru begitu? Panti asuhan, kolong jembatan. Kalian menghabiskan akhir pekan di sana. Menuangkan sedikit air pengetahuan dari teko kalian dengan harapan teko-teko mereka juga terisi. Tekomu tentu akan kosong minggu depan dan inilah resikonya, kau mesti mengisi tekomu kembali. Untuk mengajar, kau paham betul bahwa kau juga harus terus belajar. Dan belajar membutuhkan energi yang tidak sedikit. Tapi, kalian tentu juga mengerti soal pengorbanan, bukan?

Kau tentu ingat ketika kita memutuskan untuk menggelar cek kesehatan dan pengobatan gratis di kolong jembatan, kan? Bodoh, gumam orang-orang, kalian tentu butuh banyak biaya untuk itu, lagi pula kenapa mesti repot-repot, toh mereka sendiri yang memilih untuk hidup tidak sehat. Ya, kau memang tidak punya cukup uang untuk itu. Tapi, kemudian kau sadar bahwa ini soal kita, bukan cuma kau dan aku. Kita menghimpun kemampuan masing-masing. Dan rencana kita berjalan lancar dengan peningkatan di setiap gelarannya. Dari sini, kau melihat bahwa dirimu telah berubah. Namun, buatku, kau sama sekali tidak berubah. Hanya saja pandanganmu yang berubah, gerakanmu yang jadi semakin gesit, dan pengorbananmu yang bertambah banyak.

Kau tentu ingat ketika kita lebih memilih untuk diskusi semalam suntuk, membicarakan hal-hal paling tidak penting untuk orang-orang seumuran kita: filsafat, politik, sosial, budaya, sejarah, pergerakan, buku, program ke depannya, dan hal tidak signifikan lain. Yang lebih parahnya lagi, obrolan kita lakukan di rumah kontrakan sepetak yang pengap. Sementara, kau tidak bisa berhenti membakar dan menghisap rokok, mengharuskanmu untuk memuntahkan asap yang memenuhi ruangan. Begitu pula aku. Tapi, kita bersikeras untuk bertahan, karena obrolan kita soal siapa yang akan memulai revolusi dan bagaimana memantiknya belum selesai, begitu pula dengan obrolan tentang makna hidup, atau bahkan soal hubunganmu yang makin memburuk. Kau dan aku tahu pasti, obrolan kita takkan pernah berhenti, takkan pernah kehabisan tema, takkan pernah terselesaikan. Begitu pula dengan setiap perdebatannya. Aku ingat betul di satu malam pukul tiga dini hari ketika membantah jargon seorang kawan yang menurutku abstrak: manusia harus memanusiakan manusia lainnya. Dia menghajarku habis-habisan dengan jawaban-jawaban dogmatis, kemudian aku memilih untuk pulang. Dan tertawa. Kau tentu ingat. Namun, kau tentu juga paham bahwa semua perdebatan teoretis yang sengit tentu sangat tidak berguna kalau tidak dibarengi dengan gerakan dan perlawanan nyata yang sengit pula.

Kau tentu ingat ketika sepulang kerja atau kuliah di sore hari tidak kau gunakan untuk beristirahat, melainkan menenteng dua tas besar berisi buku. Mendatangi tempat-tempat tertentu. Lalu, dengan sedikit basa-basi dengan orang setempat, kau menjejerkan buku demi buku dengan rapi. Untuk apa, bisik orang-orang sambil menatapmu sinis. Kau jawab mereka dalam hati, pastilah untuk membangun generasi yang cerdas dengan akrab pada buku dan membaca. Kau punya harapan, agar orang-orang yang melintas di depanmu dan buku-buku itu mau mampir sejenak, duduk bersila, meraih satu di antara sekian banyak buku, dan membacanya. Namun, harapan tinggallah harapan. Orang hanya melintasimu, melewatimu, mengabaikanmu. Mengabaikan seluruh rasa letih di badan yang kau tak pedulikan demi mereka hanya agar mau membaca. Kau kecewa. Tapi, kau terus melakukannya berulang kali di hari-hari berikutnya, minggu-minggu berikutnya. Kau tak pernah putus harapan.

Kau tentu ingat malam itu di kontrakan pengap yang sering kita pakai diskusi, kita bersepakat untuk mendatangi pengungsian petani yang rumah dan lahannya dirampas. Besoknya, kita datang ke sana. Kita mulai bertanya dan mereka mulai menjawab. Percakapan terjadi. Tapi, bukan hanya percakapan, ada air mata juga. Kau menangis, para petani juga menangis. Amarah muncul dalam diri kita masing-masing. Lalu, kita pulang, mulai menyusun rencana. Tidak lama kita akhirnya bergabung berjuang bersama mereka. Ikut aksi jalanan di terik panas Jakarta yang tanpa ampun. Ini bukan aksi pertama kita, tentu saja, tapi entah kenapa seakan kita jadi bagian penting. Mungkin karena amarah yang kau dan aku peroleh hari itu. Aku ingat saat kau lebih memilih untuk bergabung dengan massa dibanding masuk kerja atau masuk kelas.

Kau tentu ingat momen-momen lain yang tidak kuingat. Lain kali, bagaimana kalau kita saling bercerita sama-sama? Kau menceritakan kedukaan dan kesukaanmu, begitu pula aku. Mungkin kita akan saling tertawa. Atau menangis.

Untukmu yang pernah berjuang bersama. Aku akan akhiri dengan pertanyaan yang sama, apa kabarmu? Kau sedang lelah, ya? Karena aku pun lelah. Kita terhantam kenyataan. Pahit. Pedih. Mungkin istilah absurd yang sering kau dan aku bicarakan paling cocok dengan kondisi kita saat ini.

Namun, kau tahu apa yang harus dilakukan ketika kita dihantam kenyataan: bagaimana kalau kita balik menghantam kenyataan itu? Bukankah ini yang selama ini kita lakukan, melawan arus dan mengubah kenyataan pahit, berharap perjuangan kita berakhir dengan penciptaan sebuah kenyataan yang lebih manis.

Kau pastilah paham soal ketidaktunggalan kebenaran, ketiadaan kebenaran universal nan objektif. Karena dari sana, kita bergerak, berusaha keras dengan tekad kuat, atau bahkan juga terkesan nekat, untuk menciptakan sebuah keadaan yang nihil-penindasan. Dan karenanyalah kita banyak berkorban dan sampai pada titik nadir yang melelahkan.

Akhirnya, aku mesti benar-benar sudahi tulisan ini. Dan kupastikan, bukan hanya kau yang lelah. Aku juga. Kita juga. Terkadang kau dan aku perlu sesekali melihat ke belakang, mengingat pengorbanan dan mimpi utopis yang kau taruh di roda pergerakan ini. Dan terkadang beristirahat sejenak adalah keharusan.

Namun, kau belum dan tidak akan menyerah, bukan?

Karena kalau kau memutuskan untuk menyerah, aku akan jadi orang yang paling kecewa.

 

 

 

 

Selamat Hari Lahir Aksi Kaum Muda Indonesia

Selamat Hari Lahir, Kawan-kawan Semua

18 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s