Kontemplasi: Pengulangan Abadi

“Bagaimana jika satu malam atau siang seorang iblis menyelinap kesepian tersunyimu dan berkata: “Hidupmu yang sekarang telah dan sedang kau jalani mesti kau jalani sekali lagi dan terus berulang kali hingga tak terhingga; tidak ada yang baru di dalamnya, namun tiap kedukaan dan keriangan, dan tiap pikiran dan keluhan dan segala kejadian kecil mau pun besar dalam hidupmu akan kembali, dalam rangkaian dan urutan yang sama persis – bahkan laba-laba dan rembulan di antara pepohonan, dan bahkan saat ini, juga diriku sendiri. Jam pasir eksistensi nan abadi diputar balik lagi dan lagi, dan kau ada bersamanya, wahai serpihan abu!”

-F. Nietzsche; The Gay Science. Book IV aph. 341

 

Satu hari, Nietzsche mengatakan bahwa konsep mengenai Pengulangan Abadi tetiba mendatanginya ketika ia berpapasan dengan batu besar di hutan pinggir danau Silvaplana, Swiss sekitar Agustus 1881. Ia menyatakan bahwa inilah kebenaran yang menyenangkan! Tentu selain sebagai sebuah tragedi. Siapa pula yang sanggup menerima, jika, kenyataan hidup ini memang tidak berjalan linear, melainkan sirkuler. Dengan kejadian yang sama di setiap perputarannya, tanpa mampu, atau tanpa kuasa, kita membelokkannya.

            Adakah Nietzsche hanya sedang bergurau? Atau sekadar petuah kebijaksanaan aforistis nan ironis lain? Tidak. Ia tidak sedang memberi wejangan kebijakan. Nietzsche punya ambisi tersendiri untuk membuktikan hipotesis Pengulangan Abadi-nya; ia berniat kembali ke Universitas Wina dan mempelajari fisika, memperkuat anggapan-anggapannya bahwa Pengulangan Abadi memang ada. Sebuah buku telah dipersiapkan untuk itu, sebuah buku yang jika berhasil diselesaikan tentu akan jadi bumerang baginya sendiri: bagaimana mungkin seorang penulis aforisme mengkhianati bangunan tulisannya dengan tulisan yang sistematis dan kaku. Di satu sisi, Nietzsche ingin membuktikannya secara ilmiah.

Nietzsche bukan yang pertama menelurkan Pengulangan Abadi, sebelumnya ada Anaximandros, Herakleitos, dan Pythagoras. Menurut Kauffmann, seorang penafsir Nietzsche, sosok terpenting yang memengaruhi Pengulangan Abadi-nya Nietzsche adalah Heinrich Heine (1797-1856), seorang penyair dan penulis Jerman.

Pengulangan Abadi dihadirkan oleh Nietzsche untuk menguji sejauh mana ia, dan manusia secara keseluruhan, dapat menerima dan mengafirmasi hidup. Bahkan, jika hidup harus dialami berulang kali dengan pengalaman yang sama persis dan dalam waktu yang tak terhingga. Duka lara atau pun suka ria yang sama akan terus mendatangi kita dalam kungkungan lingkaran waktu nan kekal. Segala-galanya akan kembali. Lagi. Dan terus begitu.

Kita lahir, hidup dengan tawa dan tangis, lalu mati. Hanya untuk lahir kembali setelahnya. Dengan nada jerit tawa dan tangis yang sama pula. Bahkan, serangga di pojok rumahmu, hujan deras saat kau tertawa cemas, atau cahaya rembulan yang bersembunyi di balik awan akan kembali. Sama. Persis. Seperti kehidupan sebelumnya.

Kau bisa apa? Aku bisa apa? Cintailah ia. Setiap perputarannya. Setiap luka yang hadir, sembuh, lalu muncul terkoyak lagi. Cintai takdir.

Aku akan menangis, kau pun juga. Tetapi, biarlah. Terimalah. Amor fati. Kuatkan kehendakmu, dan semoga kehendakku juga. Kita akan mengalami satu lompatan kebinasaan dengan kehendak itu. Kehendak yang menerima Pengulangan Abadi dengan suka cita. Dengan kegairahan yang meluap-luap, juga kebahagiaan yang sama tak terhingganya. Hingga aku dan kau memiliki hasrat untuk terus mengulangi hidup, menyambutna di tiap awal kehidupan dan ujung kematian kita, meski dengan bahagia yang sama. Dan derita yang sama jua. Ad infinitum.

Amor fati. Cintai takdir.

Semoga Kehendak Untuk Berkuasa bisa kau dan aku capai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s