belajar pada hari-hari

Satu hal yang membuatku bertanya-tanya

Hal senewen yang menyebabkan para pencinta itu hilang akal

Membuat mereka terlihat bodoh dalam kesedihan

Membuat mereka bertanya-tanya akan suatu hal yang terhitung lumrah

 

­Kenapa kita mesti bertemu?

Jika pada akhirnya pasti berpisah

Begitu tanya mereka

Juga aku

 

Mengapa kita ditakdirkan bermula?

Kalau pada akhirnya dipaksa untuk berakhir

Begitu soal mereka

Pun aku

 

Percayalah, aku juga tak paham

Tapi biarlah, aku menjawabnya

Dengan jawaban sendu yang penuh dengan pertanyaan lain

Dan, jawaban indah yang berujung pada persoalan lain pula

 

Aku bilang, belajarlah pada hari-hari

Yang dengannya matahari dan bulan selalu menemani

Fajar dan senja selalu mengiringi

Sama halnya dengan pertemuan dan perpisahan yang setia melengkapi

 

Dimulai dengan sang hari yang bertemu dengan sang matahari

Pertemuan yang sama indahnya bagai adegan fajar di awal pagi

Permulaan yang sama menyenangkannya bagai warna merah merekah di ujung timur

Sang hari takkan pernah mau melewatkan hal, yang jika bisa, ia kan terus coba ulur

 

Namun, apa daya, selayaknya pertemuan, perpisahan kian dekat menghampiri

Matahari kan tenggelam, ia harus terbenam, menandakan sebuah akhir talian kasih

Senja yang anggun berubah menjadi saksi pilu, cahaya sendu matahari

Kini makin menggelap, menyerang dan menyelimuti sang hari

 

Tetapi, ketegaran sang hari membawanya pada pertemuan lain, sebuah awal yang berbeda

Ia tak secerah matahari, tapi hadirnya membawa pesona tersendiri

Sang bulan tiba, menghibur, menerangi hitamnya sang hari

Dan menemaninya sampai mati

 

Aku bilang, belajarlah pada hari-hari

 

Hal yang tak bisa dielak, gugatan lainnya adalah

Ya, pertemuan mungkin sama indahnya seperti fajar

Namun, adakah perpisahan yang seanggun senja?

Sayangnya, tidak, kawan

 

Pertemuan memang seindah fajar, tapi jika anggunnya senja adalah perpisahan

Mampukah kita tetap menganggapnya anggun?

Kawan, aku bilang belajarlah pada hari-hari

Matahari-matahari itu memang kan meninggalkan engkau, hari-hari

 

Namun, percayalah, bulan-bulan lain kan datang dan senantiasa menemani sampai mati

 

Lalu, mampukah kita menganggap perpisahan adalah sebuah karunia?

Ketika ia justru, sungguh, mengantarkan diri menuju sejatinya cinta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s