meludahkan kemustahilan

Yang mana milikmu? Duri-duri yang mengawang?

Akankah ia menghampiriku dan menerjang?

Menusuk, membuka celah di tubuh, hingga darah mengucur berlari kencang?

Engkaukah darah? Takdirkah duri yang mengawang?
Meludahkanmu pun aku sedia, wahai darahku!

Tak perlu mengutus takdir untuk memisahkanku!

Hingga memucat, aku kan terus memuntahkanmu

Tak perlulah ia berlaga berkuasa di hadapanku
Lihatlah takdir yang pongah, wahai darahku yang jelita

Ia begitu bahagia dengan manusia, lantas memaksa kita bersandiwara

Menyatukanmu dalam tubuhku, ia harap aku kan menangis sampai mati jika kita terpisah

Sayangnya, wahai darahku yang anggun, aku terlalu kaku untuk panggungnya
Sandiwara berlanjut, ia kini bak kesatria utusan tuhan, menghampiri kita dengan sabit

Tapi, wahai darahku yang kucinta, sabit itu takkan cukup untuk membuatku menjerit

Skenario terburuk kusobek sedari awal, memukul sang takdir, hatinya takut, mengernyit

Dan perhatikan, wahai darahku yang kupuja, kuludahi ia dengan darahku!
Kuludahkan engkau ke sekujur tubuhnya!

Biarkan aku, si aktor, yang menyudahi sendiri sandiwara kita!

Biarlah aku, si tubuh, yang memakamkanmu sendiri bersama sang takdir!

Biarlah aku, si pencinta, yang menyelesaikan sendiri kemustahilan cinta!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s