Manusia Terlalu Manusia

​Kenapa dulu ia terus  menjejali hidupnya dengan ketenangan? Kenapa ia selalu menenangkan hatinya dari kekhawatiran akan hidup yang sia-sia, fana? Kenapa dulu ia begitu senang dijejali dengan segala omong kosong soal kepastian dan…ketenangan, begah, hingga muntah pun tak sudi?

Dan, kenapa kini ia berbahagia dengan kewaspadaan? Kenapa ia selalu tersenyum ketika berpapasan dengan ketidakpastian? Kenapa ia begitu riang ketika menahan lapar, menolak hidangan nikmat soal kesempurnaan yang dulu ia puja, meskipun kematian mengitari dengan sayap gelapnya?

Tidak ada jawabannya. Manusia tetaplah manusia. Manusia tidak pernah sanggup menjelaskan kebiasaann ia yang sangat tidak manusiawi… Atau justru ia telah melampaui manusia-manusia ini?

Epik tentang seseorang yang melebihi manusia akan terus digemakan. Dari Adam hingga Al Mahdi, Sang Juru Selamat.

Pernahkah kita berpikir mengenai manusia? Tidakkah manusia ini terlalu ‘manusia’? Enggankah kita melampaui ke-manusia-an ini? Dengar, bacalah epik-epik lampau mengenai seorang manusia yang mengangkangi manusia-manusia lain di masanya.

Lalu, bagaimanakah kita bisa melampaui ke-manusia-an kita kini? Pertanyaannya tetap terbuka, jawabannya tetap kan muncul, mereka yang menjawab masih akan disiksa sebelum akhirnya dipuja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s