Kontemplasi: Kehendak

“Manusia bisa mewujudkan Kehendaknya, tapi ia tidak bisa menghendaki Kehendaknya.”

-Arthur Schopenhauer

 

 

Apa hal paling primordial dalam diri manusia, yang paling murni,yang ada pada setiap kita?

            Kant membagi realita jadi dua, fenomena dan noumena. Fenomena adalah sebuah representasi dari noumena; fenomena dirasa secara indrawi dan rasional, noumena tidak. Fenomena menampakkan diri, noumena bersembunyi dibaliknya; noumena adalah hakikat dari fenomena yang takkan pernah bisa diindra, ataupun dicandra dengan rasio, oleh manusia. Das ding an sich. Noumena adalah hal yang murni, primordial. Namun, apa noumena dalam diri manusia? Masih mustahilkah untuk sekadar diketahui?

Schopenhauer menganggap hal paling mendasar, murni, primordial dalam diri manusia adalah Kehendak (Will/ der Wille). Kehendak Untuk Hidup (der Wille zum Leben), begitu Schopenhauer menyebutnya, adalah sebuah realitas transendental yang menempati palung terdasar manusia. Kehendak ini mengarahkan, memaksa, memengaruhi manusia. Ialah satu-satunya dorongan dasar, sekaligus kesamaan manusia satu dengan yang lain. Noumena Kantian adalah Kehendak bagi Schopenhauer. Maka, tidak ada beda antara Kehendak pada manusia dengan Kehendak pada hewan.

Kehendak jadi motif dasar manusia. Ia bukanlah sesuatu yang rasional, pun tidak bisa dirasionalkan. Kehendak itu buta, liar, irrasional, immoral, sia-sia, tak terarah, tak pernah puas, tak mungkin hilang, tak bisa diatasi. Maka, Schopenhauer melihat Kehendak sebagai sumber penderitaan. Buddha pernah berkata demikian. Semua ajaran agama, secara universal, menempatkan ‘hawa nafsu’ sebagai anugerah bawaan, sebagai musuh utama, terberat, sebagai sumber celaka. Semua ajaran moral mengutuk ‘hawa nafsu’ sebagai hulu dari kebinasaan, muara pada kebejatan. Hawa nafsu adalah sebutan untuk Kehendak-nya Schopenhauer. Sayang, hawa nafsu dimaknai secara naif: ia bisa dikalahkan, bisa diakali, bisa dimusnahkan. Kehendak selalu ada menempati relung terdalam manusia, mustahil dimusnahkan, ia selalu mendorong, membisikkan kemauan-kemauan pada tuannya.

            Manusia adalah Kehendak. Maka, apa yang membuat Kehendak yang satu lebih luhung dibanding Kehendak yang lain? Kehendak adalah Kehendak; Kehendak yang sama. Kehendak yang mewujudkan diri dalam alam pikir dan tingkah laku manusia. Manusia adalah manusia; manusia yang saling memiliki Kehendak buta itu, Kehendak yang takkan bisa dipuaskan itu. Adakah yang membuat manusia buta lebih luhung dari manusia buta lain?

            Manusia adalah suatu perwujudan hipokrisi permanen. Ia melawan, namun dengan senang hati menyerah. Ia marah, namun dengan lebar tersenyum puas. Ia melawan, marah terus-menerus. Ia melawan lagi. Marah lagi. Tetapi, nahas, ia juga menyerah sambil tersenyum bahagia. Lagi. Terus berulang, berputar. Tanpa pernah sekalipun berhenti. Sebuah perwujudan akan Pengulangan Abadi yang begitu tepat. Manusia adalah budak, dalam arti dan makna yang sebenar-benarnya. Budak dari Kehendak.

            Manusia adalah sebentuk katastrofe kekal. Ia berharap pada lubang yang berujung. Malang, lubang malah terus ia gali. Ia berharap, kelak, akan melubangi dataran, mempertemukannya pada sinar matahari. Sial, lubang malah terus ia gali, semakin dalam dan dalam.

            Manusia adalah sejenis optimisme hampa.

            Manusia hanyalah manusia: manifestasi sempurna dari sang Kehendak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s