Filsafat Negasi: Menegasikan Filsafat

Judul: Filsafat Negasi

Penulis: Muhammad Al-Fayyadl

Penerbit: Aurora

Tahun: 2016

Halaman: 158

dsc_0025

Sedikit yang penulis ketahui soal pribadi Muhammad ‘Gus Fay’ Al-Fayyadl, selain statusnya sebagai seorang santri Nahdliyin dan alumnus Universite Paris 8. Dua latar belakang akademis yang saling berlawanan itu sekiranya cukup dijadikan pertimbangan untuk memperkirakan apa yang hendak ia bicarakan. Buat penulis pribadi, salah satu prestasi Gus Fay adalah berhasil ‘mendamaikan’ perseteruan – yang terlihat abadi: prinsip teologi dan materialisme, Islam dan marxisme, kanan dan kiri.

            Dalam Filsafat Negasi, Gus Fay hendak membicarakan sesuatu yang sebetulnya jelas dan lugas, mampu diucap oleh kata-kata yang sederhana, sekalipun konsep-konsep ‘asing’ Husserl, Heidegger, Badiou, dan sebagainya tetap dipertahankan. Namun, dua hal yang akan hilang sebagai konsekuensinya: orisinalitas dan keindahan diksi. Lagipula, Filsafat Negasi adalah sebuah ‘perkakas’ ontologis bagi apa yang Gus Fay sebut logika dunia; dan ontologi nyaris tidak pernah mudah dipahami dan terutama diterima. Gus Fay dalam Filsafat Negasi berbicara mengenai: kenapa kita harus terus memperbaharui dunia, kenapa di hadapan dunia kita tidak semestinya diam-pasif-nerimo.

Filsafat Negasi memberi porsi lebih pada fenomenologi Husserlian dan menjadikannya pijakan. Gus Fay tidak menciptakan sesuatu yang baru, tetapi dia memberi kebaruan-kebaruan atas konsep-konsep yang dipakainya. Gus Fay, dari sini, berhasil mempraktikkan sebuah upaya negasi atas yang-telah-ada untuk kemudian menjadi, ber-transgenerasi menuju yang-akan-ada.

Membaca Filsafat Negasi, maka dari itu, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi penulis yang hanya sedikit mengetahui konsep-konsep filsafat barat, khususnya kontinental abad 20, dan terutama fenomenologi Husserl.

            Filsafat Negasi dibagi menjadi dua Bab: Negasi dan Transgenerasi. Bab Negasi adalah pendahuluan sekaligus pembahasan; bab Transgenerasi sebagai penutup dan kesimpulan.

            Bab pertama, Negasi, dibuka dengan:

“Filsafat ada untuk ditolak. Hanya dalam kemungkinannya untuk ditolak, ia relevan untuk terus ada.”

 

“Salah satu kenaifan filsafat adalah pikiran bahwa ia paling baik hidup di lingkungan yang memungkinkannya sebagai sebuah disiplin. Hal ini menjadikan filsafat tak ubahnya sebuah entitas ilmiah yang mewajarkan diri di antara deretan disiplin pengetahuan yang lain. Paralelisme ini tak benar-benar ilmiah; untuk

menyejajarkan diri dengan pengetahuan yang ada, filsafat harus diakui dan, dengan demikian, dilegitimasi. Sementara, adakah kata yang tepat bagi legitimasi kecuali bahwa ia fiktif dan virtual?”

Dua frasa pertama sekaligus pembuka menjadi semacam kritik atas filsafat yang ‘mengasingkan diri’ dalam lingkup akademik dan membatasi dirinya, lagi-lagi, sebatas tafsiran terhadap dunia.

Secara perlahan, Gus Fay membawa pembacanya menelusuri realitas, tentang subjektif dan objektif, tentang yang-tidak-ada dan yang-ada, yang-telah-ada, telah-ada-di-sana. Kental penggunaan istilah-istilah yang orisinal dan Heidegerrian-Derridean. Penggunaan istilah-istilah asing ini jadi semacam tantangan bagi yang tidak, atau kurang, familiar untuk mencelupkan diri ke dalam Filsafat Negasi secara total.

Secara bertahap, pembaca juga dibawa untuk mendalami kesadaran, intensionalitas, dan dari sini manusia sebagai subjek, individu; untuk kemudian, Gus Fay membahas subjek ber-kesadaran yang memiliki dorongan, spontanitas, untuk memenuhi sosialitas-nya, membentuk suatu asosiasi murni: masyarakat. Gus Fay mempertegas manusia memang makhluk sosial, selain juga individu yang unik yang berbeda satu sama lain. Asosiasi yang murni, berdasarkan kesepakatan bersama Tubuh-berjiwa, menjadi normatif, dan berubah menuju institusi: negara – bukan lagi berupa sebentuk sosialitas yang spontan.

Bab Negasi ditutup dengan:

“Perkembangan tatanan faktual didorong oleh perkembangan atau kemerosotan formasi makna. Sebagian formasi makna dibentuk oleh hubungan-hubungan intersubjektif. Sebagian besar lainnya dibentuk oleh ilusi-ilusi kestabilan, harmoni, dan permanensi dari hubungan-hubungan intersubjektif. Di mana ilusi itu tumbuh, di situ muncul hambatan bagi intensionalitas. Negasi, secara objektif adalah perwujudan intensionalitas. . . Dalam arti itu, negasi adalah penemuan kebebasan dari keterberian tatanan objektif, tatanan yang objektivitasnya hanya dimungkinkan oleh deklarasi tentang ketidakmungkinan perubahan dunia: Nihil novi sub sole – “Tak ada yang baru di bawah matahari”.”

        Filsafat Negasi, secara garis besar, adalah sebuah filsafat yang membawa pada penolakan atas yang-telah-ada dan mengusahakan yang-akan-ada. Sebuah penegasian atas status quo yang tidak lagi aktual dan tidak lagi mampu mengaktualkan diri – dengan kata lain, suatu keadaan yang tidak lagi relevan, sewenang-wenang, berlawanan dengan intensionalitas subjek majemuk, berlawanan dengan kehendak masyarakat. Filsafat Negasi bukan omong kosong abstraksi, melainkan sebuah filsafat pembebasan, progresif, mampu mematerialisasi dirinya dalam dunia.

“Filsafat negasi adalah gerak menuju noumena. Kebaruan absolut muncul ketika noumena menjadi fenomenal.”

 

Direkomendasikan kepada: Penggemar filsafat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s