Kucing

Aku mendengar mereka berbicara. Aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi, mereka tidak tahu kalau aku paham perkataan mereka.

            Mereka seringnya berkumpul di teras. Menunggu beberapa potong ikan basah yang sengaja kubeli ‘tiap pagi. Entah sejak kapan aku bisa mendengar dan memahami omongan mereka. Awalnya menyenangkan. Mereka terlihat bodoh karena tidak sadar kalau aku tahu apa yang mereka ucapkan. Lama-lama aku yang terlihat bodoh.

            “Hei, kamu tahu, nggak? Gun kemarin bilang dia sudah hapus semua kontak milik perempuan yang dia sukai.”

            “Ya, lagipula buat apa, ‘kan si Gun juga enggak kenal sama cewek itu.”

            “Kenalan aja dia ‘gak berani.”

            Buat orang pada umumnya, percakapan di atas hanya berupa ngeong panjang. Tapi, buatku adalah sejumlah barisan kalimat yang membentuk satu percakapan utuh.

            Mereka bertiga. Kadang-kadang lebih. Tapi si Hitam, Putih, dan Kuning yang tidak sudi kuberi nama resmi ini selalu bersama dan setia berdiam di teras. Mereka pula yang pertama kali kudengar sedang bercakap-cakap. Mereka kucing jalanan biasa. Hobinya makan, tidur, pergi entah kemana, dan saling membocorkan rahasiaku.

            Awalnya mereka yang tampak bodoh. Lama kelamaan aku yang tampak bodoh.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s