film x dokumenter x kebenaran

Film adalah satu bentuk seni yang diekspresikan oleh manusia lewat gambar dan suara. Film mungkin juga bisa dibilang sebagai satu inkarnasi teater di era kamera. Sebagaimana fotografi yang menjelma dari lukisan. Hal ini terus diperdebatkan, antara film dan teater, fotografi dan seni lukis, mana yang lebih unggul dan luhung.

Jika menengok ke belakang, teater setidaknya di Eropa jadi satu wujud hiburan yang bisa dibilang ningrat. Seorang penulis fiksi lazim menulis naskah teater juga. Sebagaimana seorang professor yang juga lazim mahir memainkan alat musik. Manusia kala itu begitu menjunjung tinggi bentuk-bentuk kesenian. Estetika setara dengan etika dalam memandang hidup. Sains sama kuatnya dengan sandiwara dan sajak-sajak. Shakespeare dan Goethe dikenal luas sama seperti Newton dan Locke.

Situasinya agak, dan memang, berbeda ketika kamera mulai digunakan untuk mengambil gambar lalu menciptakan gambar bergerak yang dipadukan dengan suara. Di awal kemunculannya, film pun ningrat. Tapi, sejak kamera bisa dimiliki siapa saja, seni juga jadi merata di setiap kalangan. Banyak film dan foto (yang sifatnya tentu nyeni, bukan sekadar foto biasa) bermunculan. Bukan tanpa ribut-ribut, malahan film (dan fotografi) yang berubah jadi budaya pop diserang karena dianggap terlalu sepele. Nyaris sulit membedah sebuah foto dengan pisau yang sama ketika membedah Guernica.

Sementara, film hadir meneruskan seni lakon. Dan kehadirannya sama ributnya dengan fotografi dan lukisan. Tapi, film setidaknya lebih baik. Ia menggabungkan dua keahlian sekaligus: teknik kamera dan seni peran. Film jadi sumber kebahagiaan hampir setiap orang saat ini. Bisa dihayati dan bisa dibedah dengan pisau analisa yang sama ketika membedah Hamlet. Film bisa jadi salah satu diantara representasi, reproduksi, rekonstruksi realita. Film bisa jadi sebuah alegori indah atau lurus menampilkan realita apa adanya. Atau mungkin juga film cuma jadi karya tanpa isi alias makna intrinsik. Jenis film terakhir banyak dan mudah ditemui hari ini.

Jika berbicara soal makna dalam sebuah film, kebanyakan darinya keluar dari mulut orang lain. Bukan produser, sutradara, atau kru lain yang terlibat. Film punya makna tersembunyi. Banyak orang berbicara soal The Matrix dan kaitannya dengan aspek mendasar hidup kita, pertanyaan seperti: siapa kita, darimana asal kita, dimana pencipta kita. Atau John D. Caputo yang berbicara panjang lebar soal Star Wars dan kaitannya dengan zaman baru religiusitas manusia. Dua contoh di atas tampil secara implisit. Dan film dalam kategori ini merupakan alegori realita kita.

Bagaimana dengan film yang lurus menampilkan realita apa adanya? Kita menyebutnya film dokumenter. Di awal penggunaan kamera sebagai alat untuk membuat film, dokumenter juga sudah hadir. Bahkan bisa dibilang, dokumenter mendahului film fiksi. Kita tentu akrab dengan film hitam putih singkat tentang kereta yang masuk ke stasiun. Mei 1896, Boleslaw Matuszewski merekam operasi bedah di rumah sakit Warsawa dan Saint Petersburg. Di masa perang, kamera juga digunakan untuk membuat dokumenter prajurit-prajurit yang entah akan memasuki parit atau berjejer rapi sambil menenteng bedil, menggigit cerutu dan tersenyum.

Film dokumenter, meskipun hadir lebih dulu dibanding film fiksi, masih mendapat posisi di dunia industri film modern. Tapi, kenapa harus film dokumenter? Film yang nihil kehadiran seni peran nan luhung, kalaupun ada itu pastilah minim (terbatas sebagai sebuah reka ulang). Film dokumenter juga terkesan kaku. Nyaris tanpa adanya kondisi naik turun perasaan dari mereka yang menonton. Tapi, ada satu kekuatan film dokumenter yang mampu melengkapi kekuatan film fiksi: menyampaikan kebenaran.

Terutama kebenaran yang telah lama disekap dalam sebuah gudang gelap serta pengap. Tanpa bumbu-bumbu cerita palsu, dokumenter sama ampuhnya sebagai sebuah senjata propaganda. Jika film fiksi menyerang alam bawah sadar dan seakan menanamkan paham secara perlahan. Dokumenter bisa jadi menyerang alam sadar penuh dan memukul-mukul kepala kita secara terang-terangan.

Contoh yang terpampang jelas adalah dua film dokumenter karya Joshua Oppenheimer: Jagal (Act of Killing) dan Senyap (Look of Silence). Keduanya mengorek-ngorek koreng bangsa kita yang masih juga belum kering, malah membuktikan bahwa lukanya yang ditutup plester tanpa pernah diobati kini jadi bernanah: peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S PKI. Judul pertama, menampilkan sudut pandang dari beberapa orang eksekutor dalam G30S PKI yang menghilangkan nyawa (baca: membantai) orang-orang yang dianggap terlibat dengan PKI.  Semua dilakukan dengan dalih menyelamatkan bangsa dan setiap eksekutor turut serta menganggap diri mereka sendiri sebagai pahlawan nasional. Judul kedua, menggunakan sudut pandang seorang adik yang melakukan perjalanan, dimana kakaknya disembelih saat peristiwa G30S PKI, demi mencari kebenaran dalam peristiwa tersebut. Apakah benar mereka yang dibantai, disembelih, yang dianggap setan komunis, yang dianggap terlibat konspirasi PKI, memang sungguh layak berakhir di kali-kali sebagai jasad tanpa nyawa? Joshua Oppenheimer seperti membuka plester yang menutupi koreng, membiarkan darah campur nanah menetes. Ia berhasil menyampaikan kebenaran pahit, kejujuran kelam.

Di Indonesia, keduanya mendapat penolakan keras. Terutama Senyap. Banyak yang ingin memutar film ini, namun berkali-kali Kodim atau Ormas (atau keduanya) selalu membayangi dengan popor senapan dan pentungan, ancaman dan pembubaran. Film dokumenter Oppenheimer terbukti sama kuatnya dengan film fiksi G30S PKI yang telah meresap di ingatan siapa saja yang tumbuh saat Orde Baru. Inilah kekuatan sesungguhnya dari film dokumenter!

Pada era 1960-1970, di Amerika Latin film dokumenter juga dibuat sebagai senjata politik melawan neokolonialisme dan kapitalisme. Film dokumenter begitu sakti dan ampuh, justru terkesan meremehkan jika sebuah dokumenter hanyalah soal meneruskan informasi. Dokumenter mampu meningkatkan kesadaran sosio-politik penontonnya. Dokumenter bukan sekadar pengantar kebenaran, tapi ia juga sebagai senjata immaterial, yang bisa digunakan siapa saja. Untuk membantu bangkit golongan tertindas atau untuk membantu golongan elit menindas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s